Dalam ajaran Islam istilah ”Tamu adalah raja”
ini merupkan inti dari ajaran islam itu sendiri dan barang siapa yang ingin
diluaskan rizkinya dan dipanjangkan usianya, maka hendaklah menyambungkan tali
silaturrahim.
Tuan rumah (Shohibul bait) dalam menerima tamu
hendaknya mempunyai etika-etika (adab) dalam menerima tamu sesuai dengan ajaran
islam. Yaitu seperti :
1. Hendaknya Menunjukkan Wajah Kegembiraan
Tuan rumah hendaknya menunjukkan wajah
kegembiraan. Jika ketika itu tuan rumah sedang mempunyai masalah yang
merisaukan hendaknya kerisauan itu tidak ditampakkan kepada tamu. Jika
kekesalan itu tertuju kepada orang yang datang bertamu, hendaknya usahakan
tetap bisa bersikap ramah, karena berlaku tidak ramah kepada tamu, misalnya
menampilkan wajah cemberut atau secara sengaja tidak berbicara atau berbicara
sangat singkat, berlawanan dengan muru`ah tuan rumah yang justru harus dijaga.
2. Menjawab Salam
Menjawab salam saudara kita sesama muslim
berarti merealisasikan sunnah Rosulullah saw dan menunaikan hak sesama muslim.
Dan menjawab salam itu sendiri hukumnya adalah wajib. Dan
jika yang bertamu itu ahli kitab (orang Non-Muslim) yang mengucapkan salam,
maka jawabannya cukup hanya dengan ucapan "alaik" atau
"alaikum" saja.
3. Berjabat Tangan
Ketika bertemu dengan tamu saudara sesama
muslim, disunnahkan berjabat tangan sebagaimana amalan para sahabat Nabi.
4. Bersikap simpatik
Selain menyambut tamu dengan wajah ceria di
awal kehadirannya, dan mengajaknya bicara dengan tutur kata yang baik dan
sopan. Imam Al Auza`i mengatakan bahwa:
”Memuliakan tamu itu adalah
(sekurang-kurangnya) menunjukkan wajah ceria dan baik tutur kata”.
Tradisi masyarakat beradab sejak zaman Nabi saw
dalam menjamu tamu selalu ada unsur obrolan, luwes, simpatik dan ramah tamah. Dan
sekiranya kita sebagai tuan rumah mempersilahkan tamunya seperti layaknya rumah
sendiri, sehingga tidak layak bagi tuan rumah untuk menyuruh tamu melayani
dirinya.
5. Memberi Hidangan
Ketika tamu itu duduk, hendaklah menyuguhkan
minuman agar tamu merasa nyaman karena penghormatan kita. Dan jika telah
selesai janganlah terburu-buru mengangkat hidangan dari meja tamu sebelum tamu
benar-benar menyelesaikan makanannya dan membersihkan tangannya.
Jika kita termasuk dalam keadaan golongan orang
yang kurang mampu, hendaknya hidangkan kepada tamu kita seadanya saja meskipun
itu hanya air putih. Jika tamu berpamitan hendaknya tuan rumah
mengantar sampai ke luar rumah.
6. Jangan Membebani Tamu
Janganlah seorang tuan rumah membebani tamu
untuk membantu, kerana hal ini bertentangan dengan kewibawaan dan jangan
menampakkan kejemuan terhadap tamu, tetapi menampakkan kegembiraan dengan
kehadiran mereka, bermuka manis dan berbicara ramah dan ceria.
7. Boleh Menanyakan Siapa Namanya
Jika yang bertamu adalah orang yang belum kita
kenal sama sekali, dan dia meminta izin untuk masuk, maka kita boleh menanyakan
namanya sambil berjabat tangan seraya mengenalkan diri. Karena berjabat tangan
dengan sesama muslim hikmahnya banyak yaitu diantarnya dapat melapangkan dada,
mempererat ukhuwah dan dapat menghapus dosa selama belum berpisah.
8. Boleh Menolak Tamu
Sebagai tuan rumah kita diberi kuasa oleh Allah
SWT untuk menentukan sikap terhadap tamu. Apakah kita akan menolak tamu
tersebut atau menerimanya, jika kita menolak karena suatu hal maka hendaknya
bicara jujur dan menyampaikan udzurnya dengan akhlak yang baik.
Dari Abu Hurairah dari Nabi Beliau berkata:
"… barang siapa yang beriman kepada Allah
dan hari akhir maka hendaknya memuliakan tamunya, dan barang siapa yang beriman
kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya bicara yang benar atau diam.”
9. Boleh Saling Berpelukan
Jika tamu kita adalah orang yang bertempat
tinggal jauh sekali, bisa dikatakan bahwa tamu kita tersebut hanya bersilaturrahim
tiap Idul Fitri saja, maka ketika tamu tersebut berpamitan kita boleh saling
berpelukan. Dan pada hukum asalnya (berpelukan itu)
yaitu dibolehkan kecuali selain mahramnya.
Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO


0 komentar:
Posting Komentar